mairieaussevielle.com

My WordPress Blog

Cedera itu hantu! setiap pesepakbola tahu bahwa konsekuensi dari cedera tidak hanya bolos dalam hitungan bulan atau tahun. Melainkan karir yang dibangun sekian usang sanggup lenyap begitu saja. Banyak pemain yang mencicipi pahitnya pertarungan di lapangan, sampai-sampai tak lagi berseragam, tak lagi mengejar bola dan hilang mimpi sekaligus mata pencaharianya sebagai pesepakbola.

Ya, bung betul, ketika sudah tidak jadi pesepakbola tak berarti hidup sudah berhenti dikala itu juga. Tetapi apakah bung sanggup bayangkan? mereka yang merasa terselamatkan dari peliknya dunia kerja dengan menjadi pesepakbola, tiba-tiba harus mendapatkan kenyataan bahwa satu-satunya hal yang ia yakini dan ia percaya harus hilang begitu saja.

Mungkin daftar pemain berikut ini yang pensiun sebab cedera masih sanggup bekerja di bidang lain. Tetapi rasa sedih, pilu dan haru sebab meninggalkan lapangan hijau sudah tak sanggup lagi ditolelir.

Cedera Tak Pandang Bulu, Legenda Van Basten pun Harus Rela Meninggalkan Lapangan Hijau Lebih Dulu

 setiap pesepakbola tahu bahwa konsekuensi dari cedera tidak hanya bolos dalam hitungan bu Cedera Adalah Hantu Bagi Setiap Pesepakbola!

Sumber : Sporten.com

Di setiap generasi nanti, nama Marco Van Basten niscaya akan dikenali. Sebagai sosok legenda yang meraih tiga Ballon d’Or dan menjadi ikon bagi Ajax Amsterdam dan AC Milan, namanya harum di lapangan hijau dan aksara bermainnya merupakan yang modern di eranya. Sayang, pemain asal Belanda ini mengakhiri karirnya di usia 30 tahun.

Pada tahun 1987 dikala berada di AC Milan ia mengalami cedera engkel yang bergotong-royong sudah tak sanggup lagi memaksanya untuk berkarir sepakbola. Tekad yang berpengaruh membuatnya bangun hingga menemukan performa terbaik.

Namun cedera itu kembali terjadi di tahun 1993, semenjak dikala itu hingga tahun 1995 ia pun tetapkan pensiun karena lebih sering duduk di kursi cadangan dibanding di mainkan. Karena cedera engkelnya kambuhan dan sulit menemukan performa terbaiknya.

Tiga Kali Naik ke Meja Operasi Adalah Sinyal Bahwa Karir Harus Diakhiri

 setiap pesepakbola tahu bahwa konsekuensi dari cedera tidak hanya bolos dalam hitungan bu Cedera Adalah Hantu Bagi Setiap Pesepakbola!

Sumber : ESPN

Bagi bung yang terlahir kala sepakbola 2000-an niscaya mengenal nama Emanuel Petit. Sepanjang karir ia membela banyak klub termasuk Monaco, Arsenal, Barcelona sampi Chelsea. Gelandang terbaik yang dimiliki Prancis ini juga merupakan skuad yang membawa negri Ayam Jantan tersebut juara Piala Dunia 1998 dan Euro 2000.

Karirnya pun sirna semenjak pindah ke Barcelona. Selain jarang bermain, Petit juga sering cedera hingga karenanya Barcelona melepasnya ke Chelsea pada tahun 2001. Berharap sanggup menemukan performa terbaiknya justru ia malah tidak berkembang.

Pada 2003 Petit sudah beberapa kali naik meja operasi, baginya ini tanda jika kondisi fisik tak lagi mumpuni berlaga di level top Eropa alhasil ia menyatakan pensiun setahun setelahnya.

Menyatakan Selamat Tinggal Sepakbola Lewat Sosial Media

 setiap pesepakbola tahu bahwa konsekuensi dari cedera tidak hanya bolos dalam hitungan bu Cedera Adalah Hantu Bagi Setiap Pesepakbola!

Sumber : talkSPORT

Miguel Perez Cuesta alias Michu, siapa yang kenal pemain underrated pada mulanya. Sampai pada karenanya ia tiba ke Inggris pada 2012 dan menunjukkan pembelaan untuk lini depan Swansea City. Dibeli dari Rayo Vallecano dengan harga mura adalah £2 juta, Michu justru mempersembahkan titel Piala Liga dan mencetak 22 gol.

Saat karirnya sedang menemui titik terang, justru kondisi fisiknya secara terang-terangan memberi tanda jika tak siap lagi untuk  berperang. Cedera engkel menjadi cedera kambuhan sehingga ia jarang dimainkan. Michu pun dipinjamkan ke Napoli ekspresi dominan 2014/15 tetapi performanya tak kunjung membaik membuatnya tidak dipertahankan Napoli dan dilepas oleh Swansea di tahun 2015. Sempat membela klub kecil macam Langreo dan Oviedo, tetapi keputusan Michu lingkaran untuk pensiun di usia 31 tahun sebab cedera yang tak kunjung sembuh.

“Menurut laporan medis, situasi terkini engkel kanan saya mencapai poin di momen yang memaksa saya untuk mengucapkan selamat tinggal kepada karir pesepakbola profesional,” ucap Michu dalam akun Twitter pribadinya dikutip dari FourFourTwo.

Cidera Tak Sembuh Sama Dengan Gantung Sepatu

 setiap pesepakbola tahu bahwa konsekuensi dari cedera tidak hanya bolos dalam hitungan bu Cedera Adalah Hantu Bagi Setiap Pesepakbola!

Sumber : Mancity.com

Lebih parah lagi jika menyimak usaha Owen Hargreaves untuk berjuan melawan cedera selama 6 tahun. Penurunan karir terjadi dikala pemain kelahiran tahun 1981 membela Inggris di Piala Dunia 2006 dikala mengalami patah kaki. Hampir semusim ia lewatkan Bersama Munchen, hingga tiba proposal dari Machester United.

Dari tahun 2007 hingga 2011 ia masih berusaha mencapai performa terbaik, ekspresi dominan 2007/08 Setan Merah meraih double winners Premiere League dan Liga Champions. Selama membela pun, Hargreaves masih dilanda cedera lutut.

Kemudian ia berkelana ke Manchester City, hingga di sini ia menyadari bahwa perfoma yang turun sebab cedera mengharuskan dirinya gantung sepatu atau pensiun. Lantaran ia hanya menjalani empat penampilan saja.

Cidera Menerpa, Kuliah pun Dilanjutkan Demi Kehidupan yang Terus Berjalan

 setiap pesepakbola tahu bahwa konsekuensi dari cedera tidak hanya bolos dalam hitungan bu Cedera Adalah Hantu Bagi Setiap Pesepakbola!

Sumber : Indosport.com

Tidak hanya terjadi di tanah Eropa, di Indonesia pun banyak yang mengalami pensiun sebab cedera. Firmansyah, bakat yang dibesarkan Rahmad Darmawan di Persikota Tangerang pada medio 2000-2004 mengalami pahitnya dari cedera berkepanjangan. Di level timnas namanya menjadi andalan instruktur asal Inggris Peter Withe yang kala itu menangani Indonesia. Sumbangsihnya membawa Indonesia bersinar di Piala Tiger 2004 sebelum dikalahkan oleh Singapura di partai final.

Kursi kepelatihan Indonesia yang berganti ke Ivan Kolev, tak membuatnya tersingkir dari timnas. Tetapi semua berakhir ketika persendian firman mengalami robek pada 2007. Selama setahun menjalani pemulihan ternyata gagal, stress berat cedera membuatnya kerap takut berjibaku di lapangan hijau. Pada 2008 di usia ke-28 Firmansyah tetapkan pensiun dan meneruskan kuliah.