Tak Hanya Jaga Gawang, Kiper Juga Dapat Cetak Gol Ke Gawang

Dalam gugusan posisi pemain bola, semuanya mempunyai nasib yang sama untuk mengkonversikan sebuah peluang menjadi sebuah gol. Karena membuat gol tidak menjadi kiprah para striker. Tetapi hanya ada satu posisi yang sekiranya sulit untuk membuat sebuah gol karena ia mempunyai kiprah krusial dalam menjaga gawang dari kebobolan, yap ia ialah seorang kiper.

Meskipun pemain belakang ditumpuk hingga empat atau lima orang, tidak berarti kiprah kiper bakal ditutup oleh pemain belakang secara keseluruhan. Karena gawang kerap merindukan bagaimana jalanya bergoyang dan itu mengapa seorang kiper mempunyai tanggung jawab yang krusial dalam setiap pertandingan.

Meskipun sulit bukan berarti seorang kiper tak bisa mencetak gol, alasannya ialah sulit bukan berarti tidak bisa. Sehingga bagi kiper tidak ada yang tidak bisa dilakukannya menyerupai halnya menceploskan bola gawang. Kalau menepis bola hanyalah sebuah aksi, sedangkan membobol gawang menjadi salah satu atraksi.

Nah, berikut ini beberapa gol penting  yang dicetak oleh kiper atau penjaga gawang.

Gol Dramatis Diberi, Namun Anti Selebrasi

 semuanya mempunyai nasib yang sama untuk mengkonversikan sebuah peluang menjadi sebuah gol Tak Hanya Jaga Gawang, Kiper Juga Bisa Cetak Gol ke Gawang

Sumber : Goal.com

20 September 2003 menjadi hari bersejarah bagi penjaga gawang berkebangsaan Estonia berjulukan Mart Poom. Poom ketika itu menjadi penjaga gawang dari Sunderland yang sedang melokoni laga melawan Derby Country. Sebagai tim tamu Sunderland mendapat gempuran sengit di lini pertahanan hingga risikonya tertinggal 0-1 dari Derby Country.

Tertinggal selisih satu gol, Poom berusaha maju ketika Sunderland mendapat sepak pojok pada menit ke-91, guna membantu serangan. Tak disangka-sangka keputusanya untuk maju ketika sepak pojok dilakukan membuahkan gol penyeimbang. Sebagai kiper yang mencetak gol di menit-menit simpulan seharusnya selebrasi heboh dilakukan, tetapi ia anti selebrasi demi menghormati diri sebagaimana pernah berseragam Derby Country.

Tak Hanya Gawang yang Diselamatkan, Namun Juga Muka Tim Saat Derby

 semuanya mempunyai nasib yang sama untuk mengkonversikan sebuah peluang menjadi sebuah gol Tak Hanya Jaga Gawang, Kiper Juga Bisa Cetak Gol ke Gawang

Sumber : Goal.com

Kilas balik ke tahun 1997 di mana laga derby di Jerman yang selalu dinantikan setiap tahunnya, yang mempertemukan Schalke 04 dan Borrusia Dortmund, Rivierederby ialah sebutan bagi laga sengit ini. Berbicara di tahun 1997 di mana laga derby yang tersaji meninggalkan kesan mendalam bagi kiper kawakan Jens Lehmann.

Lehmann yang ketika itu berseragam Schalke 04, menjadi penyelamat Schalke di menit-menit simpulan dengan mencetak gol dan membuat pertandingan berakhir imbang 2-2. Di mana gol tersebut dicetak di menit-menit akhir.

Situasi Tendangan Penjuru Selalu Menjadi Moment Bagi Penjaga Gawang Untuk Membobol Gawang

 semuanya mempunyai nasib yang sama untuk mengkonversikan sebuah peluang menjadi sebuah gol Tak Hanya Jaga Gawang, Kiper Juga Bisa Cetak Gol ke Gawang

Sumber : Goal.com

Masih di tahun yang sama, kali ini kiprah penjaga gawang yang bisa membobol gawang diambil oleh kiper dari FC Augsburg, Marwin Hitz. Setelah tertinggal dari Bayer Leverkusen hingga menit akhir. Kedudukan 2-1 tentu masih ada peluang untuk mematahkan kekalahan bagi FC Augsburg, alhasil moment itu tiba di menit ke-93.

Skemanya pun hampir sama menyerupai Lehmann dan Poom, di mana sepak pojok terjadi yang memaksa Hitz untuk maju kedepan untuk memanfaatkan bola mati. Boom! gol pun terjadi dengan mengubah kedudukan 2-2 di simpulan laga, sehingga Augsburg tak jadi kalah di depan pendukungnya.

Nama Toldo! Menggema di Derby d’Italia Pada Tahun 2002

 semuanya mempunyai nasib yang sama untuk mengkonversikan sebuah peluang menjadi sebuah gol Tak Hanya Jaga Gawang, Kiper Juga Bisa Cetak Gol ke Gawang

Sumber : Goal.com

Fans Inter Milan tak mungkin lupa pada laga Derby d’Italia tahun 2002. Di mana ia berhasil menyelamatkan muka Inter Milan yang hampir kalah dari Si Nyonya Tua. Bermain di sangkar Giusseppe Meazza, Inter tentu tak boleh aib dengan menelan kekalahan dari tim sekelas Juventus.

Alhasil usaha Nerazzuri memuncak untuk menyamakan kedudukan. Menit ke-89 pun kiper Inter, Francesco Toldo pun maju membantu serangan, dan tidak disangka jika ia jadi penyelamat Inter dan menghukum Buffon lewat goalnya. Kedudukan pun sama besar lengan berkuasa 1-1.

Pahlawan Layak Diberikan Sevilla Kepada Andreas Palop

 semuanya mempunyai nasib yang sama untuk mengkonversikan sebuah peluang menjadi sebuah gol Tak Hanya Jaga Gawang, Kiper Juga Bisa Cetak Gol ke Gawang

Sumber : Goal.com

Final Europa League, menjadi liga Eropa kasta kedua yang tentu sangat berhaga bagi tim sekelas Sevilla. Setelah di leg pertama Sevilla bermain imbang 2-2 kala mejamu Shakhtar Donetsk, tentu Sevilla membutuhkan kemenangan untuk membawa Sevilla melaju ke partai Final Europa League 2006/07.

Sayang seribu sayang, mimpi itu buram alasannya ialah hingga detik-detik terakhir laga Los Rojiblancos tertinggal 2-1. Namun, Andreas Palop tiba sebagai penyelamat dengan menyamut tendangan penjuru Dani Alves hingga memaksa pertandingan berlanjut ke perpanjangan waktu.

Di babak perpanjangan waktu kedudukan pun tak berubah, sehingga harus ditentkan lewat babak sabung penalti. Tampil lebih damai dalam eksekusi, Sevilla pun lolos ke partai Final Europa League ekspresi dominan 2006/07.

Tagged : /

Laga Di Liga Satu Dihentikan, Sebab Nyanyian Sara Berkumandang

Guna menumbuhkan iklim sepakbola yang baik dan jauh dari kasus SARA, Indonesia menerapkan peraturan ketat terkait nyanyian supporter yang berseruan di stadion yang berbau sara akan dikenakan sanksi. Hal ini terjadi pada pertandingan lanjutan Liga Satu yang mempertemukan Persebaya dengan Bhayangkara FC di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya.

Setelah saling serang antar kedua tim guna mencari gol, sempurna pada menit ke-32 pertandingan dilarang untuk sementara. Penyebabnya alasannya yaitu Bonek (kelompok supporter Persebaya) menyanyikan lagu bernada SARA.

Nyanyian lagu tersebut berisikan lirik menyindir pegawanegeri kepolisian. Bhayangkara FC merupakan klub yang berhubungan dengan Polri. Isi lirik pun berisi “tugasmu mengayomi, Pak Polisi, jangan ikut kompetisi”. Di sisi lain, Djadjang Nurdjaman tidak mengetahui persis mengapa pertandingan dihentikan. Pelatih Persebaya ini karenanya menunjukkan pesan kepada Bonek untuk bertindak ibarat biasa dan mendukung tim kesayangannya dengan cara yang baik dan elegan.

“Laga dihentikan, aku tidak tahu persis kenapa. Tapi, sempat beradu argumen dengan wasit. Saya mengimbau Bonek, tetap ibarat pada pertandingan sebelumnya. Berbuat atau dukung kami dengan cara yang santun atau elegan, dan tetap sportif,” ujar Djanur dikutip dari Bola.net

Saat laga dilarang Bonek pun menyikapi dengan menerikan “boo”  dan tetap melanjutkan nyanyian yang menyindir tersebut. Anouncer pertandingan pun turun tangan dengan mengingatkan suporter untuk memberhentikan nyanyian yang berbau sara. Pertandingan terhenti cukup singkat, hanya memakan waktu dua menit. Pertandingan kembali dilanjutkan sesudah lagu tidak lagi tersiar di stadion. Sementara Pelatih Bhayangkara FC, Simon McMenemy tidak menyebabkan nyanyian sebagai alasan kekalahan tim.

Kalau penonton masuk ke lapangan dan menciptakan passing, itu mungkin berpengaruh. Tapi, itu tidak terjadi,” timpal instruktur asal Skotlandia itu.

Ini bukan kali pertama nyanyian itu dialami klub yang berhubungan dengan Polisi Republik Indonesia ini. Sebelum ketika melawat ke sangkar Madura United meraka pun mendapat nyanyian yang sama. Pertandingan tersebut juga sempat dilarang sebelum lalu dilanjutkan.

Bagaimana jawaban bung atas nyanyian tersebut?

Tagged : /

Kemenangan Eibar Atas Real Madrid, Mempunyai Makna Untuk Indonesia

Secara mengejutkan, Eibar berhasil menggilas tim sekelas Real Madrid dengan skor menjanjikan adalah 3-0. Hasil ini tentu menciptakan tim bertabur bintang tersebut terpukul. Pasalnya performa Real Madrid di trend ini memang sedang turun, apalagi sepeninggalan Ronaldo. Hingga banyak yang berujar di sosial media, No Ronaldo No Party.

Dibalik kemenangan, yang golnya masing-masing dicetak oleh Gonzalo Escalante, Sergi Enrich dan Kike. Terdapat pesan Istimewa untuk Indonesia, karena di jersey Eibar terpasang logo Football for peace Indonesia. Logo ini pun diyakini merupakan bentuk inisiatif dari yayasan Uni Papua, untuk perwujudan simpati terhadap gempa bumi dan tsunami yang memang akhir-akhir ini kerap menerpa tanah air.

 Eibar berhasil menggilas tim sekelas Real Madrid dengan skor menjanjikan adalah  Kemenangan Eibar Atas Real Madrid, Memiliki Makna Untuk Indonesia

Kami besar hati menunjukkan simpati kami kepada @unipapuafc dan belum dewasa Indonesia di berkelahi vs Real Madrid kemarin,” tulis akun resmi Eibar, @sdeibar.

Dilansir dari akun resmi Instagram Uni Papua FC, yayasan ini dibuat dengan mempunyai banyak sekali visi yang mulia untuk sepak bola. Yaitu sportif, respek, ramah anak, bersahabat, bersatu, higienis dan membentuk aksara tanpa kekerasan.

Tagged : / /

Cedera Yakni Hantu Bagi Setiap Pesepakbola!

Cedera itu hantu! setiap pesepakbola tahu bahwa konsekuensi dari cedera tidak hanya bolos dalam hitungan bulan atau tahun. Melainkan karir yang dibangun sekian usang sanggup lenyap begitu saja. Banyak pemain yang mencicipi pahitnya pertarungan di lapangan, sampai-sampai tak lagi berseragam, tak lagi mengejar bola dan hilang mimpi sekaligus mata pencaharianya sebagai pesepakbola.

Ya, bung betul, ketika sudah tidak jadi pesepakbola tak berarti hidup sudah berhenti dikala itu juga. Tetapi apakah bung sanggup bayangkan? mereka yang merasa terselamatkan dari peliknya dunia kerja dengan menjadi pesepakbola, tiba-tiba harus mendapatkan kenyataan bahwa satu-satunya hal yang ia yakini dan ia percaya harus hilang begitu saja.

Mungkin daftar pemain berikut ini yang pensiun sebab cedera masih sanggup bekerja di bidang lain. Tetapi rasa sedih, pilu dan haru sebab meninggalkan lapangan hijau sudah tak sanggup lagi ditolelir.

Cedera Tak Pandang Bulu, Legenda Van Basten pun Harus Rela Meninggalkan Lapangan Hijau Lebih Dulu

 setiap pesepakbola tahu bahwa konsekuensi dari cedera tidak hanya bolos dalam hitungan bu Cedera Adalah Hantu Bagi Setiap Pesepakbola!

Sumber : Sporten.com

Di setiap generasi nanti, nama Marco Van Basten niscaya akan dikenali. Sebagai sosok legenda yang meraih tiga Ballon d’Or dan menjadi ikon bagi Ajax Amsterdam dan AC Milan, namanya harum di lapangan hijau dan aksara bermainnya merupakan yang modern di eranya. Sayang, pemain asal Belanda ini mengakhiri karirnya di usia 30 tahun.

Pada tahun 1987 dikala berada di AC Milan ia mengalami cedera engkel yang bergotong-royong sudah tak sanggup lagi memaksanya untuk berkarir sepakbola. Tekad yang berpengaruh membuatnya bangun hingga menemukan performa terbaik.

Namun cedera itu kembali terjadi di tahun 1993, semenjak dikala itu hingga tahun 1995 ia pun tetapkan pensiun karena lebih sering duduk di kursi cadangan dibanding di mainkan. Karena cedera engkelnya kambuhan dan sulit menemukan performa terbaiknya.

Tiga Kali Naik ke Meja Operasi Adalah Sinyal Bahwa Karir Harus Diakhiri

 setiap pesepakbola tahu bahwa konsekuensi dari cedera tidak hanya bolos dalam hitungan bu Cedera Adalah Hantu Bagi Setiap Pesepakbola!

Sumber : ESPN

Bagi bung yang terlahir kala sepakbola 2000-an niscaya mengenal nama Emanuel Petit. Sepanjang karir ia membela banyak klub termasuk Monaco, Arsenal, Barcelona sampi Chelsea. Gelandang terbaik yang dimiliki Prancis ini juga merupakan skuad yang membawa negri Ayam Jantan tersebut juara Piala Dunia 1998 dan Euro 2000.

Karirnya pun sirna semenjak pindah ke Barcelona. Selain jarang bermain, Petit juga sering cedera hingga karenanya Barcelona melepasnya ke Chelsea pada tahun 2001. Berharap sanggup menemukan performa terbaiknya justru ia malah tidak berkembang.

Pada 2003 Petit sudah beberapa kali naik meja operasi, baginya ini tanda jika kondisi fisik tak lagi mumpuni berlaga di level top Eropa alhasil ia menyatakan pensiun setahun setelahnya.

Menyatakan Selamat Tinggal Sepakbola Lewat Sosial Media

 setiap pesepakbola tahu bahwa konsekuensi dari cedera tidak hanya bolos dalam hitungan bu Cedera Adalah Hantu Bagi Setiap Pesepakbola!

Sumber : talkSPORT

Miguel Perez Cuesta alias Michu, siapa yang kenal pemain underrated pada mulanya. Sampai pada karenanya ia tiba ke Inggris pada 2012 dan menunjukkan pembelaan untuk lini depan Swansea City. Dibeli dari Rayo Vallecano dengan harga mura adalah £2 juta, Michu justru mempersembahkan titel Piala Liga dan mencetak 22 gol.

Saat karirnya sedang menemui titik terang, justru kondisi fisiknya secara terang-terangan memberi tanda jika tak siap lagi untuk  berperang. Cedera engkel menjadi cedera kambuhan sehingga ia jarang dimainkan. Michu pun dipinjamkan ke Napoli ekspresi dominan 2014/15 tetapi performanya tak kunjung membaik membuatnya tidak dipertahankan Napoli dan dilepas oleh Swansea di tahun 2015. Sempat membela klub kecil macam Langreo dan Oviedo, tetapi keputusan Michu lingkaran untuk pensiun di usia 31 tahun sebab cedera yang tak kunjung sembuh.

“Menurut laporan medis, situasi terkini engkel kanan saya mencapai poin di momen yang memaksa saya untuk mengucapkan selamat tinggal kepada karir pesepakbola profesional,” ucap Michu dalam akun Twitter pribadinya dikutip dari FourFourTwo.

Cidera Tak Sembuh Sama Dengan Gantung Sepatu

 setiap pesepakbola tahu bahwa konsekuensi dari cedera tidak hanya bolos dalam hitungan bu Cedera Adalah Hantu Bagi Setiap Pesepakbola!

Sumber : Mancity.com

Lebih parah lagi jika menyimak usaha Owen Hargreaves untuk berjuan melawan cedera selama 6 tahun. Penurunan karir terjadi dikala pemain kelahiran tahun 1981 membela Inggris di Piala Dunia 2006 dikala mengalami patah kaki. Hampir semusim ia lewatkan Bersama Munchen, hingga tiba proposal dari Machester United.

Dari tahun 2007 hingga 2011 ia masih berusaha mencapai performa terbaik, ekspresi dominan 2007/08 Setan Merah meraih double winners Premiere League dan Liga Champions. Selama membela pun, Hargreaves masih dilanda cedera lutut.

Kemudian ia berkelana ke Manchester City, hingga di sini ia menyadari bahwa perfoma yang turun sebab cedera mengharuskan dirinya gantung sepatu atau pensiun. Lantaran ia hanya menjalani empat penampilan saja.

Cidera Menerpa, Kuliah pun Dilanjutkan Demi Kehidupan yang Terus Berjalan

 setiap pesepakbola tahu bahwa konsekuensi dari cedera tidak hanya bolos dalam hitungan bu Cedera Adalah Hantu Bagi Setiap Pesepakbola!

Sumber : Indosport.com

Tidak hanya terjadi di tanah Eropa, di Indonesia pun banyak yang mengalami pensiun sebab cedera. Firmansyah, bakat yang dibesarkan Rahmad Darmawan di Persikota Tangerang pada medio 2000-2004 mengalami pahitnya dari cedera berkepanjangan. Di level timnas namanya menjadi andalan instruktur asal Inggris Peter Withe yang kala itu menangani Indonesia. Sumbangsihnya membawa Indonesia bersinar di Piala Tiger 2004 sebelum dikalahkan oleh Singapura di partai final.

Kursi kepelatihan Indonesia yang berganti ke Ivan Kolev, tak membuatnya tersingkir dari timnas. Tetapi semua berakhir ketika persendian firman mengalami robek pada 2007. Selama setahun menjalani pemulihan ternyata gagal, stress berat cedera membuatnya kerap takut berjibaku di lapangan hijau. Pada 2008 di usia ke-28 Firmansyah tetapkan pensiun dan meneruskan kuliah.

 

 

Tagged : /

Mursyid Effendi Wacana Piala Tiger 1998 : “Semua Basuh Tangan, Aku Menanggung Cacian”

Kalah menang itu biasa dalam sepak bola, air mata dan teriakan bangga sanggup tergambar dari raut wajah yang mendukung di sudut tribun atau layar kaca. Tetapi kita tidak pernah tahu, bagaimana raut wajah pendukung dikala menyaksikan pertandingan yang tidak murni atau settingan. Mari bung kita napak tilas balik ke Piala AFF masih berjulukan Piala Tiger sempurna di tahun 1998. Di mana Indonesia dan Thailand memainkan sepak bola gajah.

Di Indonesia istilah sepakbola gajah merujuk kepada pertandingan settingan. Asal mula muncul istilah sepak bola lahir pada 1988 dikala pertandingan Divisi Utama kurun Perserikatan 1987/1988 antara Persebaya melawan Persipura. Saat itu Persebaya ‘mengalah’ dengan skor 0-12 demi melancarkan balas dendam kepada PSIS Semarang.  Lantaran pada Divisi Utama Perserikatan 1985/1986 tim berjuluk bajul ijo tersebut merasa dikecawakan alasannya ialah PSIS mengalah kepada PSM Makassar yang menjadi pesaing utama Persebaya sehingga tidak sanggup lolos ke babak 6 besar.

Di tabrak Persebaya berpura-pura kalah dari Persipura dipimpin wasit yang berasal dari Lampung, yang populer dengan kawasan di mana banyak menampilkan pertandingan gajah yang dikendalikan seorang pawang yang sanggup mengatur skor. Balik lagi ke Piala Tiger 1998 yang sudah harus kita kenang. Lantaran itu merupakan corak sepak bola yang memalukan bagi Asia Tenggara dan juga Indonesia.

Ketika Kemenangan Tidak Dicari Dalam Suatu Pertandingan

 air mata dan teriakan bangga sanggup tergambar dari raut wajah yang mendukung di sudut trib Mursyid Effendi Tentang Piala Tiger 1998 : “Semua Cuci Tangan, Saya Menanggung Cacian”

Sumber : Goal.id

Ada beberapa alasan kenapa Piala Tiger 1998 dikenang, alasannya ialah ini menjadi sejarah yang amat memalukan bagi sepak bola Indonesia, sekaligus mencoreng nama sepakbola Asia Tenggara. Untuk itu, hal ini mengajarkan kita gotong royong ada kalanya sepak bola memang mahal mengenal kata kemenangan. Seolah kemenangan bukan lagi harga mati.

Pada pertandingan ketiga di penyusuhan grup dikala Indonesia dan Thailand saling berpapasan, mereka ibarat mempunyai skenario yang sama untuk menghindari juara grup Vietnam alasannya ialah dianggap lawan berat, apalagi kala dihadapi di tabrak semi-final.

Padahal persepsi sang juara seharusnya menghadapi siapa saja lawan di di depannya bukan menghindarinya bukan?Alhasil lewat persepsi inilah timbul untuk tidak mencari siapa yang menang, sehingga kedua tim memainkan sepakbola yang sangat amat membosankan.

Permainan Negatif Ditampilkan, Sampai Pemandangan Seorang Kiper Maju ke Depan

 air mata dan teriakan bangga sanggup tergambar dari raut wajah yang mendukung di sudut trib Mursyid Effendi Tentang Piala Tiger 1998 : “Semua Cuci Tangan, Saya Menanggung Cacian”

Sumber : Istimewa

Ketika sepakbola berjalan ke arah settingan, barang tentu yang disajikan niscaya membosankan. Indonesia dan Thailang pun merotasi beberapa pemain inti, dikala pertandingan pertama berjalan konon katanya itu sangatlah tidak jelas. Kedua tim tidak berhasrat menyerang, Indonesia yang dua pertandingan sudah mengoleksi sembilan gol justru ibarat lupa bagaimana cara menbobol gawang lawan.

Belum lagi di babak kedua, kiper Indonesia dikala itu Hendro Kartiko kerap maju ke depan bahkan sempat membuat satu peluang dengan tendangan ke jalan lawan. Hendro dikala itu, memainkan tugas ibarat Manuel Neuer di Piala Dunia 2018 kemudian dikala menghadapi Korea Selatan. Melihat itu semua, tentu membuat semua orang keheranan dengan pertandingan yang berlangsung.

Hingga Akhirnya Ada Satu Sosok yang Memutuskan Memikul Tanggung Jawab

 air mata dan teriakan bangga sanggup tergambar dari raut wajah yang mendukung di sudut trib Mursyid Effendi Tentang Piala Tiger 1998 : “Semua Cuci Tangan, Saya Menanggung Cacian”

Sumber : Juara.net

Setelah dua babak berjalan skor pun imbang 2-2 namun pluit panjang belum dibunyikan. Usaha Thailand untuk menahan imbang nampaknya sia-sia.  Mursyid Effendi membuat skor menjadi 3-2 di menit ke-90. Eitss, tapi gol tersebut bukan keunggulan bagi Indonesia, melainkan ia mencetak gol bunuh diri! Hendro Kartiko pun terpaku dikala Mursyid Effendi menyepak ke gawang sendiri, seperti ia tidak melihat bola dikala mengalir ke jala gawangnya.

Anomalinya lagi, dikala itu Stadion Thong Nhat Vietnam hampir kosong melompong alias tidak ada yang menyaksikan. Sebuah gol harusnya dirayakan oleh salah satu tim yang diunggulkan, namun di pertandingan tersebut Yusuf Ekodono sang gelandang Timnas justru yang bertepuk tangan. Sementara itu, salah seorang pemain Thailand eksklusif mengambil bola dari gawang Indonesia. Alih-alih ingin menyamakan kedudukan, tapi sayang Thailand tidak punya mempunyai waktu lagi.

Hasil yang Memalukan Mengundang Banyak Kecaman

 air mata dan teriakan bangga sanggup tergambar dari raut wajah yang mendukung di sudut trib Mursyid Effendi Tentang Piala Tiger 1998 : “Semua Cuci Tangan, Saya Menanggung Cacian”

Sumber : Indosports.id

Pertandingan yang sangat memalukan dengan penuh skenario pengecut itu, balasannya mengundang amarah banyak orang. Penduduk Vietnam melaksanakan demonstrasi di depan Hotel Kimdo tempat timnas Indonesia menginap. Seruan yang santer terdengar dikala itu meminta Menteri Olahraga Vietnam untuk menghimbau AFC maupun AFF supaya pertandingan dibatalkan dan kedua negara diberikan hukuman yang tegas.

Mendapatkan kecaman di negara tetangga atas pertandingan yang tidak fair, juga hingga ke Indonesia. Dilansir dari FourFourTwo, redaksi koran olahraga terbesar di Indonesia dikala itu, Koran BOLA yang gres saja tutup usia beberapa bulan lalu, mendapat sejumlah telpon, email, faksimile guna megecam sandiwara yang dilakukan pemain Indonesia. Federasi macam PSSI pun diserang para pecinta sepakbola, sehingga Ketua PSSI dikala itu Azwar Anas mengundurkan diri.

Kecaman itu ternyata tidak mempengaruhi kedua tim, Thailand dan Indonesia sanggup melangkah ke semi-final. Namun mendapat eksekusi alam alasannya ialah Indonesia mengalah 1-2 dari Singapura dan Vietnam melibas Thailand tiga gol! Singapura yang menjadi incaran untuk bertemu di Semi-Final karena tak dianggap tim unggulan menjadi juara di edisi 1998, dan ini menjadi hantaman keras bagi kedua negara yang meremehkan.

Pengakuan Mursyid Effendi Menjadi Korban yang Dibela di Awal Lalu Dicampakan Di Akhir

 air mata dan teriakan bangga sanggup tergambar dari raut wajah yang mendukung di sudut trib Mursyid Effendi Tentang Piala Tiger 1998 : “Semua Cuci Tangan, Saya Menanggung Cacian”

Sumber : Bolasport.com

Naas bagi Mursyid Effemdi yang menanggung cacian seumur hidup atas gol bunuh diri yang dibuatnya. Ia buka bunyi bahwa ia jengkel dengan permainan negatif yang dipraktekkan Thailand. Masih dilansir dari FourFourTwo, ia juga menambahkan tetapi itu bukan alasan utama, tetapi adanya bentuk support dan kepedulian membuatnya rela melaksanakan hal yang mencoreng nilai fair play tersebut. Tetapi tidak hingga sebulan semua orang yang katanya bakal ada di “belakang” Mursyif Effendie malah menghindar.

“Menilik pengalaman saya sendiri di Vietnam waktu itu, semua komponen – ya, manajer, pelatih, dan pemain – satu suara, setuju. Tak usang sesudah pertandingan mereka masih memperlihatkan dukungan, siap bertangggung jawab. Maka saya masih baik-baik saja sesudah pertandingan itu. Bahkan sempat ada usul maaf kepada keluarga sesudah kembali ke tanah air. Tapi jarak sebulan, semua basuh tangan. Pelaku yang akan menanggung cacian dan hujatan seumur hidup,” ungkapnya dilansir di laman yang sama.

Bendera kuning bertuliskan Fair Play di tengah lapangan, bukan sekedar seremoni atau tampilan belaka. Tetapi itu harus dihormati dan dijalankan supaya pertandingan tidak berjalan ke arah yang kurang sportif. Piala Tiger 1998 tentu harus kita kenang dan dijadikan pelajaran alasannya ialah ini merupakan malu yang tak boleh terulang. Bahkan bung-bung sekalian mungkin berfikiran, bencana inilah yang membuat Indonesia terkena kutukan sulit menjadi juara di ajang sepakbola Asia Tenggara.

Tagged : /

Indonesia Resmi Tersingkir Dari Piala Aff 2018 Sehabis Filipina Menahan Thailand 1-1

Mimpi menjadi juara Piala AFF harus kembali terkubur, sehabis Filipina bisa menahan imbang tamunya Thailand dengan skor 1-1. Indonesia ketika ini berada di peringkat ke-4 dengan mengemas point 3 dari hasil satu kali menang dan dua kali kalah. Sedangkan Thailand dan Filipina sama-sama mengemas poin 7 yang sudah tidak bisa digapai lagi oleh Timnas Indonesia.

Hingga pada alhasil adu terakhir melawan Filipina di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan  pada hari ahad 25 November 2018 tidak memilih apa-apa. Tapi instruktur Bima Sakti dilansir dari BolaSport meminta anak didiknya untuk bermain maksimal.

“Saya sudah berpesan kepada pemain biar untuk pertandingan Minggu nanti harus ditutup dengan kemenangan,” kata Bima Sakti.

Di satu sisi Bima Sakti merasa bersalah atas gagalnya Indonesia melaju ke fase selanjutnya. Sehngga dia pun memberikan usul maaf sekaligus mengaku murung dengan gugurnya timnas Indonesia di ajang Piala AFF 2018.

“Pertama saya memberikan usul maaf kepada PSSI dan juga pecinta sepak bola Indonesia. Kita semua murung dengan hasil ini, “ punkgasnya.

 

Tagged : /